Rabu, 19 Desember 2012
Legenda Gunung Semeru
Lumajang - Legenda kuno tanah Jawa meyakini pemerintahan tertua di tanah Jawa berada di kaki Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang Jawa Timur. Beberapa kali, Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java, menyebut kata-kata Semiru (Gunung Semeru).
Giling Wesi, nama pemerintahan di kaki Gunung Semeru ini didirikan oleh Tritresta, yang juga tercacat sebagai penguasa pertama Giling Wesi. Dalam naskah Daerah Jawa bagian Timur, Sumenep dan Bali, Nata Kusuma, pejabat panambahan Sumenap menyusun silsilah penguasa Hindu yang memerintah di Jawa. Silsilah tersebut cukup detail sejak tahun pertama Jawa dengan pemerintahan Giling Wesi hingga Majapahit.
Dalam pemerintahan Giling Wesi tersebut, ada empat masa pemerintahan yang berkuasa secara berturut-turut disebutkan antara lain Tritresta, Watu Gunung, Gutaka dan Sawela. Legenda kuno yang disusun Nata Kusuma seperti disebutkan dalam buku karya Raffles, menceritakan bagaimana kisah pemerintahan Giling Wesi ini bermula. Pada mulanya, Wishnu yang menguasai Jawa. Tritresta, putra dari Jala Pasi, dan cucu dari Brama dikirim ke Jawa untuk menjadi penguasa di negeri itu.
Dikisahkan pula kalau Tritresta telah menikah dengan Bramani Kali, dari Kerajaan Kamboja, dalam usia sepuluh tahun. Kedatangannya ke pulau Jawa dan membentuk pemerintahan di Giling Wesi, di Kaki Gunung Semeru ini disertai oleh delapan ratus keluarga dari negeri Kling (India). Tritresta mendapat dua anak dari pernikahannya yakni Manu Manasa dan Manu Dewata. Dalam pemerintahan Tritresta, penduduk Giling Wesi berkembang hingga 20.000 orang.
Pemerintahan Tritresta berakhir ketika dia dikalahkan oleh Watu Gunung, dari Negeri Kling yang datang ke Giling Wesi karena tertarik dengan ketenaran dua orang wanita, Sinta dan Landap yang ternyata dibawah perlindungan Tritresta. Tritresta mati dan penguasa Giling Wesi digantikan oleh Watu Gunung yang kemudian memerintah selama 140 tahun lamanya. Karena berbuat kesalahan, Watu Gunung mendapat hukuman mati dari Dewa Wishnu.
Kemudian dikirimkan oleh Batara Guru, Gutaka dari Gunung Sawela Chala di Negeri Kling untuk menjadi penguasa Giling Wesi. Gutaka mati setelah berkuasa selama lima puluh tahun dan digantikan oleh anaknya Sawela. Tidak diceritakan bagaimana akhir dari pemerintahan di Giling Wesi, di kaki Gunung Semeru itu. Sementara itu, Koordinator Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur, Mansur Hidayat menyatakan, Semeru itu pernah disebutkan dalam prasasti Ranu Gumbolo pada tahun 1182.
Prasasti Ranu Gumbolo menjadi bukti fisik kalau Semeru pernah dikunjungi Kameswara, Raja Kediri yang tengah melakukan perjalanan ritual ke Ranu Gumbolo, di lereng Gunung Semeru. Semeru juga disebutkan dalam Prasasti Pasrujambe, di Kabupaten Lumajang. “Daerah itu dulu merupakan padepokan dan tempat tinggal resi,” katanya. Lokasinya tepatnya di Dusun Munggir. “Dulu ditempati seorang Brahmana,” katanya. Resi Pasopati, penyebar Hindu di Tanah Jawa disebut-sebut muksa di Gunung Semeru. (kln/jkc)
Selasa, 04 Desember 2012
Cinta Pertama
Seandainya kamu bisa melihat kamu dari mataku, kamu akan melihat orang yang menyebalkan, yang jahil, yang cuek, tapi selalu membuatku tertawa.
Seandainya kamu bisa melihat kamu dari mataku, kamu akan melihat orang yang nggak pernah mau mengalah, orang yang seenaknya saja, namun juga orang pertama yang akan bertanya, “apa aku baik-baik saja?”
Seandainya kamu bisa melihat kamu dari mataku, kamu akan tahu bahwa kamulah satu-satunya.
Seandainya kamu bisa melihat kamu dari mataku…
Kamu akan tahu, aku sedang melihat cinta pertama.
Pertanyaan, dan Kamu
Kamu adalah sebuah cerita, yang baru saja bermula.
Dan sebuah lagu, baru di bait ke satu..
Kamu adalah sebuah perjalanan.
Yang baru saja meninggalkan, pekarangan rumah di depan.
Dengan segala peraturan dan kebosanan.
Kamu adalah sebuah gangguan, bagi sederet rutinitas.
Kamulah yang melembutkan, kejenuhan yang mengeras..
Kamu adalah setangkai bunga yang segar, yang selalu mencari, di manakah sinar matahari memancar.
Kamu sebuah awal baru yang senantiasa membuatku berpikir: Adakah kesempatan bagiku, untukmu jadi sebuah akhir?
Kamu. Empat aksara yang senantiasa membuatku bertanya-tanya. Di kamu kah masa depan berada?
Langganan:
Postingan (Atom)
